Membludaknya Pendaftaran Perkara Di Pengadilan Agama Banjarnegara

Sejak hari pertama masuk kantor tanggal 22 Juli 2015  Pengadilan Agama Banjarnegara telah dibanjiri para pihak yang akan mengajukan perkaranya di Pengadilan Agama. Antrian panjang nampak di bagian pendaftaran bahkan ada yang dilayani di meja-meja kerja para pegawai yang bertugas pada hari itu.

PENDAFTARAN SIDANG MENINGKAT

Kebanyakan dari mereka adalah para pekerja yang bekerja di luar daerah Kabupaten Banjarnegara, misalnya di Jakarta, Bandung, Semarang, Sumatera bahkan yang bekerja di luar negeri. Hal ini rutin terjadi apabila telah selesai hari raya idul fitri, umumnya masyarakat mudik disamping bersilaturrahmi juga untuk menyelesaikan masalahnya yang terjadi di dalam rumah tangga mereka, rata-rata dari mereka mengatakan kemelut yang terjadi sudah lama terpendam dan saat pulang ke kampung halaman berusaha untuk diselesaikan.

Berbagai jenis perkara masuk saat habis lebaran ini, mulai dari perceraian, pengangkatan anak, dispensasi nikah sampai perkara poligami. Menurut petugas pendaftaran dalam suasana lebaran seperti sekarang rata-rata satu hari perkara masuk sebanyak  30  perkara.

Kepada salah seorang pendaftar yang tidak mau disebutkan namanya, saat ditanya oleh redaktur, "Mengapa mendaftar cerai dalam suasana lebaran seperti ini, Bu?" Dia menjelaskan, bahwa selama ini dia bekerja  di Jakarta, pulang satu tahun sekali dan baru kali ini dapat menyempatkan untuk mendaftarkan perceraian sekaligus mudik, padahal sudah pisah tempat tinggal sejak tahun 2011. Suaminya ikut ngga bu ? tidak, sejak pisah suami sudah kabur.

Lain halnya dengan Abdullah (bukan nama sebenarnya), dia datang ke Pengadilan Agama Banjarnegara untuk mendaftar dispensasi nikah atas perkawinan anaknya yang masih dibawah umur 16 tahun. Redaktur mencoba untuk bertanya; "Berapa umur anak Bapak?" Lalu, ia menjawab, "bulan ini baru 13 tahun 8 bulan."

PENGAMBILAN AKTA CERAI

Pertanyaan dari redaktur berlanjut. "Mengapa buru-buru untuk dinikahkan?" Kemudian, Abdullah menjawab; Gimana ya pak, anak saya bekerja di Jakarta, calon suaminya juga bekerja di Jakarta. Tiap kali pulang mesti bersama.Saya yang jadi orang tua takut barangkali terjadi sesuatu, maka terpaksa kami nikahkan. Itulah beberapa gambaran yang terjadi di Pengadilan Agama Banjarnegara apabila telah selesai idul fitri.

Banjarnegara termasuk kategori Kabupaten yang penduduknya banyak merantau ke daerah lain, baik sebagai pedagang, tukang kayu, maupun sebagai baby sitter. Kabupaten yang mayoritas penduduknya bertani ini utamanya sebagai petani salak pada umumnya anak-anaknya tidak sampai menempuh pendidikan tinggi, mereka telah bekerja sejak usia SLTP yang menjadikan mereka lebih cepat dewasa dibandingkan dengan umurnya, oleh karena itu sangat wajar jika seandainya perkara dispensasi nikah di Kabupaten Banjarnegara tergolong tinggi jika dibandingkan kabupaten yang lain.

Namun demikian, walaupun perkara yang masuk saat lebaran cukup banyak, dengan didukung oleh 12 orang Hakim termasuk Ketua dan Wakil Ketua tidak terlalu menjadi beban. Apalagi dengan sport yang selalu diberikan oleh Ketua Pengadilan Agama Banjarnegara, Drs. H. Malik Ibrahim SH. MH. dalam setiap kali apel maupun rapat-rapat dinas agar selalu meningkatkan pelayanannya terhadap masyarakat. (lap.arief)