Tuada Uldilag Raih Gelar Doktor | (13/7)

Ujian terbuka tersebut menghadirkan 9 orang penguji. Selain Prof. Dr. Joko Siswanto, para penguji lainnya adalah Prof. Dr. H.R. Soejadi, SH dan Dr. M. Mukhtasar Syamsuddin, MHum ?keduanya sebagai Tim Promotor merangkap penguji-, Prof. Dr. Abd. Gofa Anshori, SH, MH, Prof. Dr. Abbas Hamami Mintaredja, Prof. Dr. Syamsul Hadi SU, Dr. H. Arifin A. Tumpa, SH, MH, Dr.Arkom Kuswanjono dan Dr. Armaidy Armani MSI.

Judul disertasi yang diusung oleh Dr. H. Andi Sjamsu Alam, SH, MH ini adalah ?Usia Perkawinan dalam Perspektif Filsafat Hukum dan Kontribusinya bagi Pengembangan Hukum Perkawinan Indonesia?.

Dialog-dialognya Segar dan Lepas

Andi Sjamsu Alam merupakan Doktor ke 68 dalam Program Studi Ilmu Filsafat dari UGM Yogyakarta. Di tahun 2011 ini merupakan Doktor ke-3.

Jawaban-jawaban dalam ujian terbuka tersebut sangat menarik perhatian hadirin. Segar, lepas dan tidak jarang menimbulkan riuh rendah tepuk tangan. ?Bukan main?, kata seorang hadirin yang duduk di belakang badilag.net.

Dalam disertasinya, Andi Sjamsu Alam antara lain berkesimpulan bahwa batas minimal usia perkawinan haruslah 21 tahun, baik untuk calon pengantin laki-laki maupun perempuan. Dengan pertimbangan bahwa dilihat dari aspek psikologis, sosiologis dan kesehatan masing-masing pasangan suami istri pada usia tersebut keduanya seimbang.

Perbedaan batas minimal antar usia laki-laki dan perempuan merupakan diskriminatif dan mempunyai konsekuensi besar.

Dalam Undang-Undang tentang Perkawinan batas minimal usia laki-laki untuk dapat menikah adalah 19 tahun, sementara untuk perempuan 16 tahun. Indikasi problematis usia perkawinan yang paling menonjol muncul ketika dihadapkan pada pasal 7 ayat (2) tentang ?dispensasi kawin? yang wewenang yuridis untuk keperluan itu diberikan kepada Pengadilan atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun pihak wanita sehingga mengurangi sakralitas perkawinan.

?Kini ada yang mengusulkan agar batas minimal itu dirubah, menjadi 21 tahun untuk laki-laki dan 18 tahun untuk perempuan. Ini punya konsekuensi yang sangat diskriminatif?, jelas Andi.

Lebih jauh Andi mengingatkan, perbedaan itu akan menimbulkan konsekuensi besar, seolah-olah saat pernikahan laki-laki sudah selesai perguruan tinggi, sementara perempuan hanya selesai SLTA.

?Ini sangat diskriminatif. Saya menentangnya, sebab ?kufu? itu juga harus sama-sama dalam bidang pendidikan?, katanya. ?Kita tidak boleh tidak memberikan kesempatan kepada perempuan untuk mencapai tingkat pendidikannya setingggi mungkin? tegasnya lagi yang disambut tepuk tangan hadirin.

Memang promosi ini nampak sangat menarik. Dihadiri banyak pengunjung dan banyak tokoh-tokoh. Dari lingkungan Mahkamah Agung, nampak kedua Wakil Ketuanya, beberapa Ketua Muda, hakim Agung para pejabat eselon 1 dan 2, para asisten, para Ketua Pengadilan tingkat banding dari hampir seluruh Indonesia dan para hakim sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Dari luar Mahkamah Agung, nampak ketua KY, hakim MK, Dr. Hendro Priyono dan lain-lain.

Riwayat Hidup

H. Andi Sjamsu Alam, lahir di Labbakkang, Pangkep, Sulawesi Selatan 66 tahun lalu, tepatnya 1 Februari 1945.

Riwayat pendidikannya banyak dihabiskan di kota Makassar. Selepas SR Negeri 6 Tahun Labbakkang Tahun 1959, beliau melanjutkan ke SMP Islam Datuk Musseng Makassar kemudian Muallimin Ulya Muhammadiyah Makasar.

Pendidikan di Fakultas Syariah IAIN Alauddin Makassar diselesaikannya Tahun 1973, dan Fakultas Hukum UMI Makassar Tahun 1986. Pascasarjana Fakultas Hukum UMI Makassar diselesaikannya Tahun 2001. Dan Selasa (12/7/2011) H. Andi Sjamsu Alam resmi menyelesaikan Program Doktor Ilmu Filsafat di Fakultas Filsafat UGM.

Ayah 6 anak dari pernikahannya dengan Hj. Andi Wahidah ini mengawali karir sebagai hakim PA Pangkep tahun 1976, empat tahun kemudian harus pindah ke Enrekang karena jabatan baru sebagai Wakil Ketua PA Enrekang. Tahun 1982 menginjakkan kaki di ibukota Sulawesi Selatan menjadi Wakil Ketua PA Makassar.

Karirnya terus menanjak. Tahun 1991 menjadi Hakim Tinggi PTA Makassar setelah sebelumnya menjabat Ketua PA Sungguminasa. Hanya satu tahun menjadi Hakim Tinggi, di tempat yang sama menduduki Wakil Ketua PTA Makassar. Ketua PTA Samarinda Tahun 1993 dan kembali ke Makassar Tahun 1996.|

Sekitar 24 tahun berkarir di tanah kelahirannya, Tahun 2000 mengharuskannya mengabdi di Jakarta sebagai Hakim Agung pada Mahkamah Agung RI. Jabatannya yang sekarang adalah Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Agama yang dijabatnya sejak 2004.

Ucapan Selamat dari Dirjen

Dirjen Badilag dan segenap jajarannya di lingkungan peradilan agama melaui badilag.net mengucapkan selamat atas pencapaian H. Andi Sjamsu Alam. Selasa (12/7) H. Andi Sjamsu Alam resmi bergelar Doktor bidang Filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah mada Yogyakarta.

Pencapaian akademis serupa dengan bidang kajian yang berbeda telah diperoleh oleh pegawai di lingkungan peradilan agama. Namun pencapaian yang luar biasa oleh Yang Mulia H. Andi Sjamsu Alam lebih menjadi stimulus bagi warga peradilan khususnya peradilan agama untuk meningkatkan kemampuan akademis.

(Adli Minfadli Rabby ? Hirpan Hilmi)