Apa Pentingnya SIADPA buat Peradilan Agama? (1/8)



?Kebaikan ini berupa melakukan tugas pokok dan fungsi dengan optimal dan dilakukan secara profesional sehingga dapat memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat pencari keadilan,? ungkap Dirjen.

Fastabiqul khoirot itu bisa terjadi antara PA di ibu kota propinsi dan PA di pelosok. Menurut Dirjen, pelayanan PA di ibu kota propinsi mestinya jauh lebih baik daripada pelayanan PA di pelosok.

Meski demikian Dirjen menegaskan kembali bahwa secara keseluruhan, kinerja warga peradilan agama, baik di ibu kota propinsi maupun di pelosok, sudah bagus. Ini terbukti dari berbagai penelitian yang dilakukan pihak luar terhadap peradilan agama.

Penelitian mutakhir tentang peradilan agama dilakukan oleh Prof Tim Lindsey dan Cate Sumner. Awal tahun 2011, duet peneliti asal Australia tersebut meluncurkan buku ?Courting Reform: Indonesia's Islamic Courts and Justice for the Poor.? Edisi Indonesia buku tersebut dirilis secara resmi oleh Ketua Mahkamah Agung pada penutupan Konferensi IACA yang dihadiri delegasi dari 17 negara.

?Saya merasa puas karena Peradilan Agama yang selama ini dipandang sebelah mata ternyata mendapat apresiasi yang sangat positip,? ujar Dirjen. Dirjen berharap agar pencapaian ini terus dipertahankan dan ditingkatkan.

Sementara itu Direktur Pembinaan Administrasi Peradilan Agama, Sayed Usman, dalam laporan pelaksanaan kegiatan menyatakan bahwa penyelenggaraan administrasi peradilan secara baik dan benar akan berdampak yang sangat luas sekali, bukan saja bagi pengadilan sebagai institusi pelayan masyarakat akan tetapi juga bagi masyarakat pencari keadilan itu sendiri.

?Penyelenggaraan administrasi peradilan secara baik dan benar dapat meminimalisasi kesalahan manajemen yang diambil oleh organisasi, sehingga akan menunjang terwujudnya optimalisasi pelaksanaan pola bindalmin peradilan agama yang telah berjalan selama ini,? ujar Direktur.

Saat ini optimalisasi administrasi peradilan ditunjang dengan pemanfaatan tenologi informasi secara maksimal. Peradilan Agama menggunakan aplikasi pembantu yang diberi nama Sistem Informasi Administrasi Peradilan Agama (SIADPA).

Pada kesempatan ini, Direktur mengingatkan pentingnya pelaporan perkara. Menurutnya, pelaporan perkara membutuhkan kerja yang sungguh-sungguh, cepat, akurat dan dapat dipertanggungjawabkan validitas datanya.

?SIADPA akan memudahkan, meringankan, dan mempercepat proses pelaksanaan tugas-tugas administrasi pengadilan, termasuk proses penginformasian data-data perkara baik dalam rangka penyelesaian perkara, informasi proses persidangan maupun informasi pelaporannya,? Direktur menjelaskan.

Mengingat pentingnya SIADPA, Direktorat Pembinaan Administrasi Peradilan Agama merasa sangat berkepentingan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan SDM yang ada di direktorat ini. Mereka diharapkan dapat menjadi tulang punggung dalam mengawal pelaksanaan administrasi perkara di pengadilan agama di seluruh Indonesia terutama dalam hal penerapan aplikasi SIADPA.

(Rosmadi)