Penguasaan Layanan Informasi Cakim PA Patut Diacungi Jempol

Pengacara dan wartawan itu mendesak petugas untuk menyediakannya secepatnya. Mereka bahkan sempat menggertak dan memarahi petugas meja informasi.

Dengan tangkas dan ramah, petugas meja informasi dapat menjelaskan mana saja informasi yang boleh diberikan dan mana yang tidak boleh.

Para cakim juga memahami tujuan penting lahirnya SK Dirjen Badilag No. 017/2011 tentang Pedoman Pelayanan Meja Informasi di Peradilan Agama. Pedoman tersebut bertujuan untuk memberikan pelayanan informasi secara efektif dan efisien kepada pemohon informasi.

Selain itu, ia juga bertujuan menjadi penghubung antara masyarakat dan aparat peradilan. Dengan demikian, independensi dan imparsialitas aparat peradilan tetap terjaga.

Inilah peran penting terbentuknya area steril yang digaungkan oleh Dirjen Badilag, Wahyu Widiana. Untuk area steril ini, Wahyu Widiana sempat membuat tulisan khusus tentang filosofinya.

Kultur melek IT

Dalam ceramahnya, Rahmat Arijaya, yang pernah menjadi Dosen Luar Biasa di UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru dan tenaga pengajar di STIH Rahmaniyah Sekayu, menjelaskan tentang arah pembaruan dalam Blue Print MA 2010-2035.

Arah pembaruan sistem keterbukaan informasi dalam Blue Print tersebut meliputi 1). Membangung kultur keterbukaan di pengadilan, 2). Mengembangkan mekanisme akses informasi yang sederhana, cepat, tepat waktu, dan biaya ringan, 3). Membangun struktur organisasi dan mengembangkan kebijakan pendukung, 4). Mengembangkan mekanisme pengawasan, pengaduan dan penyelesaian keberatan dan 5). Meningkatkan pemahaman masyarakat akan kegunaan dan kebutuhan informasi pengadilan.

Saat ini, menurut Rahmat Arijaya, peradilan agama telah memiliki kultur melek IT yang bagus. Ini dibuktikan dari hasil monitoring yang dilakukan Badilag pada akhir tahun 2011. Badilag sendiri tanpa kenal lelah selalu mengkampanyekan hal ini.

Peningkatan Mutu Website

Sebagai media penting pemberian layanan informasi,  mutu website harus terus ditingkatkan. Rahmat Arijaya mendorong peserta untuk meningkatkan mutu website PA nya masing-masing.

Dalam waktu dekat akan dilakukan penilaian website oleh Australia Indonesia Partnership for Justice (AIPJ) bekerjasama dengan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK). PSHK sendiri telah melakukan penilaian website seluruh peradilan pada akhir 2011.

PSHK telah menelorkan lebih kurang 47 kriteria yang disarikan dari berbagai peraturan dan perundang-undangan. Ini merupakan sesuatu yang baru yang berbeda dengan penilaian yang pernah dilakukan oleh National Legal Reform Program (NLRP).

?Kriteria yang dibuat NLR hanya 26 sementara saat ini ada 47 kriteria. Jadi, seluruh website harus disempurnakan kembali,? tutur Rahmat Arijaya.

Ia juga menginformasikan bahwa dalam waktu dekat Badilag akan menyelenggarakan peringatan 130 peradilan agama. Pada acara tersebut akan diberikan berbagai ?award? salah satunya adalah ?website award?.

Para peserta sempat juga diminta oleh Rahmat Arijaya untuk mengisi kuesioner tentang implementasi meja informasi di satker mereka masing-masing. Ini dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan terkini.

Perlakuan Terhadap Penyandang Disabilitas

Mengutip presentasi Cucu Saidah, seorang aktivis penyandang disabilitas yang bekerja di AIPJ, Rahmat Arijaya juga menegaskan pentingnya persoalan perlakukan terhadap penyandang disabilitas.

?Dirjen Badilag beberapa waktu yang lalu telah mengeluarkan surat himbauan agar setiap Pengadilan Agama memperhatikan persoalan ini dengan baik,? Rahmat Arijaya mengingatkan.

Ketika seluruh peserta, yang terdiri dari dua kelas D dan E, ditanya tentang ramps (jalan untuk kursi roda), para peserta mengatakan bahwa fasilitas ini belum ada di kantor mereka.

Karena hal ini termasuk hal baru di PA, para peserta sangat antusias ketika Rahmat Arijaya menjelaskan bagaimana memperlakukan penyandang disabilitas secara baik.

?Ketika kita berbicara dengan mereka yang menggunakan kursi roda, usahakan kita duduk atau sedikit jongkok sehingga mereka tidak harus mendongak ke atas untuk berbicara dengan kita,? jelas Rahmat Arijaya mencontohkan.

?Ketika menyapa mereka yang mengalami gangguan penglihatan, sentuh punggung telapak tangannya dan sebutkan diri Anda dan yang bersama Anda,? lanjutnya.

?Bila mereka meminta kita menunjukkan arah, biarkan mereka memegang sikut kita dan bukan kita yang memegang sikut mereka,? Rahmat Arijaya menjelaskan.

Di akhir ceramah, Dr. Mujahidin sebagai moderator mengakui bahwa persoalan sistem informasi merupakan hal menarik untuk dibahas.

?Saya perhatikan peserta sangat aktif dan antusias dalam materi ini. Apalagi ketiga melakonkan role play yang dibuat,? ujar Dr. Mujahidin.

(el Cordova)