Pedoman Perilaku Hakim 31 Mei 2012

 

Dalam dinas masih ditemukan kasus suap, uang pelicin, serta masalah-masalah yang menyangkut penyelewengan-penyelewengan oleh hakim. Sedangkan diluar dinas menyangkut perilaku dan  tingkah laku hakim dalam rumah tangga dan lingkungan masyarakat, misalkan ditemukan hakim yang berjudi, main perempuan, rumah tangganya kacau dll. Maka dengan adanya sosialisasi ini diharapkan dapat meningkatkan kepekaan hati, tingkat integritas yang tinggi, moral yang baik, profesionalitas yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan citra dan wibawa pengadilan. “Waktu yang hanya satu hari ini pasti tidak cukup, sosialisasi ini hanya sebagai motivasi agar Saudara semua sebagai seorang hakim mampu lebih jauh menggali, mempelajari dan memahami yang kemudian mengimplementasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari,” demikian pesan Mudjtahidin di ujung sambutannya yang kemudian membuka secara resmi acara tersebut.

Sebanyak 108 orang hakim Pengadilan Agama yang terdiri dari para Wakil Ketua Pengadilan Agama serta 2 orang hakim dari setiap PA. mendapatkan materi Pedoman Perilaku Hakim (PPH) dari nara sumber yang terdiri dari Ketua, Wakil Ketua dan seorang Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Semarang.


Drs. H. Chatib Rasyid. SH.MH., Ketua Pengadilan Tinggi Agama Semarang dalam kesempatan saat memberikan materi menyampaikan bahwa PPH sebenarnya sudah merupakan tingkah laku kita sehari-hari sebagai seorang muslim yang beriman, berIslam dan berikhsan. Drs. H. Mudjtahidin, SH.MH. menyampaikan materi perihal Perilaku Hakim Dalam Proses Pemeriksaan Perkara dan Pedoman Perilaku Hakim dipandang dari sudut agama. Sementara Drs. H.M. Djamhuri Ramadhan, SH  menyampaikan materi perihal Perilaku Hakim Peradilan Agama. Setelah pemberian materi-materi tersebut, para hakim diberikan tugas untuk menilai kasus – kasus apakah melanggar kode etik atau tidak, bila melanggar, kode etik mana yang dilanggar. Yang menarik sebagai bentuk refreshing juga disampaikan beberapa film singkat mengenai pelanggaran-pelanggaran kode etik yang sering ditemukan untuk mengingatkan bahwa hal yang terlihat wajar ternyata sebenarnya melanggar kode etik sebagai seorang hakim. (f&n)