Management Tukang Cukur

Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama(WKPTA) Semarang, Drs. H. Maradaman Harahap SH. MH. tanggal 28 April 2015 melakukan kunjungan sekaligus pembinaan di Kantor Pengadilan Agama kelas 1 A Banjarnegara.

gmbar1

Kunjungan di awali dengan melihat secara langsung kinerja para Pegawai Pengadilan Agama Banjarnegara, mulai dari panggilan sidang, pelayanan kasir, register, kearsipan perkara, keuangan perkara, perpustakaan dan pelayanan tabayyun yang kesemuanya sudah menggunakan perangkat elektronik. Satu persatu diamati oleh WKPTA yang saat kunjungan didampingi oleh Panitera/Sekretaris Pengadilan Tinggi Agama Semarang H. Tri Haryono SH.

ruang arsip pengadilan agama

Dengan gayanya yang cukup santai, Ketua Pengadilan Agama Banjarnegara Drs. H. Malik Ibrahim SH. MH. menujukkan satu persatu keberhasilan yang telah dicapai oleh Pengadilan Agama Banjarnegara selama era kepemimpinan beliau yang belum genap 5 bulan ini. Tidak ada komentar apapun dari WKPTA saat melihat sistem kerja yang ada di Pengadilan Agama Banjarnegara. Bahkan mantan Bawas Mahkamah Agung ini hanya mengangguk-angguk sambil mengumbar senyumnya yang oleh Ketua Pengadilan Agama Banjarnegara menujukkan isyarat rasa puasnya.

mencoba sitem

Tepat pukul 13.00 kurang 10 menit acara dilanjutkan dengan pembinaan dan pengarahan dari WKPTA yang dilaksanakan di lantai III Gedung Pengadilan Agama Banjarnegara. Acara dimulai dengan pengantar yang disampaikan langsung oleh Ketua Pengadilan Agama Banjarnegara. Dalam pengantarnya mantan Ketua Pengadilan Agama kelas I B Jepara ini mengulasprofil Pengadilan Agama Banjarnegara kelas I A, mulai dari letak geografis, luas tanah sampai jarak tempuh dengan Kantor Pengadilan Tinggi Agama Semarang.

Disamping itu juga, disampaikan pasukan yang siap untuk mengawal setiap tugas yang merupakan sumber daya manusia, mulai dari Hakim, Panitera, Juru sita, Kesekretariatan sampai tenaga honorer. Walau demikian mantan Ketua Pengadilan Agama kelas I A Wonosobo ini juga tetap menyampaikan kendala-kendala yang dihadapi oleh Pengadilan Agama Banjarnegara dengan harapan nantinya ada solusi yang diberikan oleh WKPTA maupun Pansek PTA Semarang.

pemaparan pengadilan agama banjarnegara

Saat ini ada 4 kendala yang dihadapi oleh Pengadilan Agama Banjarnegara, yaitu:Pertama : Kurangnya Sumber daya manusia.Kedua : kurangnya daya listrik, saat ini Pengadilan Agama Banjarnegara hanya mempunyai 7.700 watt padahal dengan peralatan yang serba elektronik seharusnya mempunyai daya listrik minimal 16.500 watt, sehingga apabila saat sidang berlangsung baik AC, kipas angin maupun komputer di ruangan lain sementara dimatikan terlebih dahulu. Ketiga : sudah tidak layak dan terbatasnya mebelair yang sementara ini digunakan bahkan sebagaian besar masih peninggalan dari Departemen Agama. Dan keempat:Kurangnya kendaraan roda 4 (empat), yang ada sekarang adalah mobil Innova dan Toyota Kijang yang sudah tidak layak pakai, padahal Pengadilan Agama Banjarnegara melaksanakan sidang diluar gedung Pengadilan Agama atau sidang keliling di Kecamatan Wanayasa yang meliputi 6 Kecamatan yang jalan menuju ke tempat tersebut cukup jauh dan menanjak;pemaparan kpa banjarnegara

Pengantar dari KPA Banjarnegara diakhiri dengan kegiatan yang merupakan unggulan, serta prioritas bidang Informasi Teknologi yang baru saja disaksikan secara langsung;

Setelah pemaparan selesai disampaikan, selanjutnya WKPTA menyampaikan arahan sekaligus pembinaan kepada karyawan dan karyawati Pengadilan Agama Banjarnegara.

Dengan logat Sumateranya yang masih cukup kental, beliau mengatakan rasanya di Pengadilan Agama Banjarnegara tidak perlu lagi diberikan pembinaan mengenai kinerjanya. Bahkan, Pengadilan Agama Banjarnegara dapat dijadikan sebagai contoh untuk semua Pengadilan Agama di Jawa Tengah khususnya dalam pemanfaatan Teknologi Informasi.

sambutan wakpta

WKPTA yang merupakan Alumnus IAIN Jakarta lebih lanjut mengatakan keberhasilan yang telah dicapai oleh Pengadilan Agama Banjarnegara tidak mungkin terwujud tanpa adanya kerjasama antara unsur pimpinan dengan karyawan. Pimpinan memberikan pembinaan kepada karyawan dan karyawan dapat memberikan masukan kepada pimpinan dengan cara yang bijak sesuai aturan yang ada.

Janganlah Pengadilan Agama Banjarnegara diatur dengan Management Tukang Cukur artinya memasang kain penutup sendiri, memotong rambut sendiri, mengerik sendiri, dan menerima uang sendiri. Keberhasilan Pengadilan Agama Banjarnegara ditunjang oleh semua unsur yang ada didalamnya yang bekerja sama, dan apabila kerjasama ini tetap dapat dilaksanakan maka visi dan misi Mahkamah Agung akan segera terwujud.

Selanjutnya beliau berpesan agar prestasi yang telah dicapai harus tetap dipertahankan dan sekaligus perlu ditingkatkan, sehingga diharapkan Pengadilan Agama Banjarnegara akan dapat dijadikan sebagai Pengadilan Agama percontohan khususnya di Jawa Tengah;

sambutan pansek

Pembinaan dilanjutkan oleh Pansek PTA Semarang yang dalam penyampaiannya banyak memberikan masukan untuk kesempurnaan keberhasilan Pengadilan Agama Banjarnegara dengan konsep One Stop Service-nya. Beliau juga sangat mengapresiasi keberhasilan Pengadilan Agama Banjarnegara yang telah berhasil memprogram tabayyun secara elektronik. Menurut beliau, hal inilah yang diinginkan oleh Sekretaris Mahkamah Agung dalam kesempatan memberikan pembinaan. Tri Haryono juga berharap agar keberhasilan ini dapat ditularkan ke semua Pengadilan Agama khususnya di Wilayah Pengadilan Tinggi Agama Semarang.

Acara ditutup dengan tanya jawab yang dipandu langsung oleh Ketua Pengadilan Agama Banjarnegara. Cukup banyak pertanyaan-pertanyaan yang masuk. Namun, dari sekian pertanyaan banyak diantaranya berupa harapan antara lain dari Drs. H. Shoffan Sudjadi HS yang mengharapkan agar para hakim yang telah lanjut usianya agar tidak dimutasi yang lebih jauh, syukur-syukur didekatkan dari rumah kediaman.

DSC_7621

Hal senada juga diungkapkan oleh Sugeng Sujianto SH, yang akan memasuki masa pensiuan beberapa saat lagi justru dipindah dari Cilacap ke Banjarnegara, maka mohon agar dipindahkan lagi ke Cilacap. Selanjutnya, Mukhlis SH yang pindahan dari Cilacap juga mempertanyakan tentang nasib SK Panitera Penggantinya yang tidak kunjung muncul, padahal sudah mengikuti pendidikan Panitera Pengganti sejak tahun 2004. Tidak ketinggalan, Dra. Siti Dawimah SH. MSi. Beliau mengungkapkan mengapa usul kenaikan pangkatnya belum juga muncul padahal mestinya kenaikan pangkatnya per Oktober 2014, dll.

WKPTA Semarang menanggapi dengan penuh perhatian, dan minta agar Pansek mencatatnya. Bahkan, sambil bercanda, beliau mengatakan andaikata usulan-usulan itu yang tanda tangan beliau sekarang juga akan ditanda tanganinya. Selanjutnya WKPTA Semarang dan Pansek mohon diri untuk melanjutkan perjalananya ke Pengadilan Agama Purbalingga. Selamat jalan doa kami selalu menyertai. (lap.arief)